Saat ini, observatorium nasional untuk mengamati kehidupan di luar bumi itu masih dalam proses pembangunan. Observatorium terbesar di Asia Tenggara itu direncanakan selesai dan beroperasi pada tahun 2021.

Sebelumnya, Peneliti LAPAN, Rhorom Priyatikanto mengatakan program penelitian exoplanet dan pencarian kehidupan di luar Bumi bisa dilakukan setelah Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur beroperasi.

“Saat ini LAPAN belum ada program penelitian exoplanet. Namun, dengan beroperasinya Observatorium Nasional Timau di NTT, kami berharap untuk dapat melakukan deteksi dan karakterisasi exoplanet,” kata Rhorom kepada CNNIndonesia.com, Senin (26/10).

Sebelumnya, Kepala Balai Observatorium Nasional Kupang Bambang Suhandi menyampaikan pemilihan Gunung Timau sebagai lokasi observatorium nasional berdasarkan hasil studi selama lima tahun. Kawasan itu dinilai memiliki waktu langit cerah paling banyak dalam setahun dibanding tempat-tempat lain di Indonesia.

“Sekitar 70 persen dalam 1 tahun. Selain itu, kawasan Gunung Timau masih minim polusi cahaya, sehingga langitnya baik untuk pengamatan astronomi,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu (12/8).

Untuk mendeteksi kehidupan di luar bumi, Obnas bakal menggunakan teleskop besar dengan cermin majemuk berukuran 3,8 meter. Teleskop itu diklaim merupakan kembaran dari Teleskop Seimei milik Universitas Kyoto, Jepang.

Saat ini, teleskop tersebut masih dibuat dan akan diuji terlebih dahulu di Jepang.

Baca Saja : Mci Indonesia Terbaik di Bidangnya

Bambang membeberkan pembangunan Obnas dan pengadaan teleskop menghabiskan anggaran hingga Rp340 miliar. Namun, dia tidak merinci penggunaan anggaran iti. Dia hanya menjelaskan anggaran itu diperoleh dari APBN melalui multi year program (2017-2021).

Komplek Obnas  dibangun di atas lahan seluas 40 hektar di Kawasan Hutan Lindung Gunung Timau pada ketinggian 1.300 mdpl. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk yang biasanya menyebabkan polusi cahaya dan polusi udara sebagai gangguan pengamatan astronomi.

Dengan keberadaan Obnas dan teleskop itu, Bambang menyebut peneliti di Indonesia dapat melakukan lebih banyak hal, mulai pencarian planet hingga menguak misteri materi dan energi gelap.

Selain itu, LAPAN mengatakan akan memulai studi fenomena transien. exoplanet merupakan salah satu bentuk fenomena transien.

“Dalam rencana strategis penelitian kami, tahun depan LAPAN akan memulai studi fenomena transien, yakni fenomena yang terjadi secara insidental. Salah satu tujuannya adalah deteksi dan karakterisasi exoplanet,” tuturnya.

Bacasaja : Mci Indonesia Dapat Penghargaan

Objek-objek transien adalah benda langit yang tidak tetap cahayanya, muncul dengan tiba-tiba dan berangsur-angsur menghilang kembali. Definisi ini mencakup objek-objek seperti nova, supernova, semburan sinar gamma (GRB), dan suar AGN atau suar yang dilepaskan oleh inti galaksi aktif.

Exoplanet masuk fenomena transien karena sebuah exoplanet baru bisa terdeteksi apabila sedang melewati bintang induknya. Metode bernama transit ini  mencatat penurunan kecerahan ketika sebuah planet melintasi bintang induk. Penurunan kecerahan menandakan ada sebuah objek yang sedang melintasi bintang induk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here