Para ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkap temuan molekul air di permukaan Bulan yang wujudnya saat itu diterangi Matahari. Temuan air di Bulan untuk pertama kalinya itu didasari penelitian menggunakan observatorium udara terbesar di dunia yakni Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy atau SOFIA.

NASA Temuan itu sekaligus menunjukkan bahwa air dapat didistribusikan ke seluruh permukaan bulan, dan tidak terbatas pada tempat-tempat yang dingin.

Dilansir dari situs resmi NASA, SOFIA berhasil mendeteksi molekul air (H2O) di salah satu kawah terbesar Bulan yang dapat dilihat jarak pandangnya dari Bumi, yakni Kawah Clavius.

Temuan kali ini merupakan kelanjutan dari pengamatan sebelumnya yang mendeteksi beberapa bentuk hidrogen di Bulan dan hidroksil (OH). Namun baru-baru ini penelitian itu mengungkapkan air dalam konsentrasi 100 hingga 412 bagian per juta, atau kira-kira setara dengan sebotol air 12 ons, terperangkap dalam satu meter kubik tanah yang tersebar di permukaan bulan.

Selain itu, hasil temuan SOFIA kali ini juga didasarkan pada penelitian bertahun-tahun sebelumnya yang meneliti keberadaan air di Bulan. Ketika astronaut Apollo pertama kali kembali dari Bulan pada tahun 1969, ia sempat menjelaskan bahwa permukaan bulan dianggap benar-benar kering.

“Kami memiliki temuan dan indikasi bahwa H2O atau air yang kita kenal, mungkin ada di sisi Bulan yang diterangi matahari. Penemuan ini menantang pemahaman kita tentang permukaan bulan, dan menimbulkan pertanyaan menarik tentang sumber daya yang relevan untuk eksplorasi ruang angkasa yang lebih mendalam,” kata Direktur Divisi Astrofisika Direktorat Misi Sains di Markas NASA Washington Paul Hertz.

Hertz mengaku temuan ini sekaligus menimbulkan pertanyaan baru tentang bagaimana air tercipta dan bagaimana air mampu bertahan di permukaan bulan yang keras dan tidak berudara.

 

 

Hertz sekaligus menegaskan kelak di bawah program Artemis NASA, mereka bakal mempelajari keseluruhan tentang keberadaan air di Bulan sebelum mengirim Astronot wanita pertama dan pria berikutnya ke bulan pada tahun 2024. Dan kemudian membangun keberadaan manusia yang berkelanjutan di sana pada akhir dasawarsa.

Peneliti dari Universitas Hawaii lain yang terlibat dalam penelitian ini, Casey Honniball juga menyebut pihaknya telah mengetahui potensi keberadaan air di bulan sejak beberapa tahun silam, setelah pada 1971 ditemukan uap air di Bulan, atau pada tahun 2009, bukti pertama air beku di permukaan ditemukan.

Namun, temuan baru ini seolah menunjukkan bahwa bulan memiliki molekul air yang jauh lebih mudah diakses dan kemungkinan dapat digunakan untuk minum, suplai bahan bakar dan penggunaan lainnya.

“Sebelum observasi SOFIA, kami tahu ada semacam hidrasi. Tapi kami tidak tahu berapa banyak molekul air seperti yang kami minum setiap hari atau sesuatu yang lebih seperti pembersih saluran,” pungkasnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here