Gadis cantik ini bernama Marie Zumariah. Dia lahir di Garut dan di sejak awal revolusi (1946) terlibat aktif sebagai anggota Tentara Pelajar. Di kesatuannya, Marie tidak dilibatkan dalam pertempuran. Ia justru kerap dilibatkan dalam operasi-operasi telik sandi riskan dan berbahaya: menyelundupkan senjata, granat, peluru melewati pos-pos penjagaan militer Belanda di Front Bandung Timur.

Di tengah gemuruh revolusi itu, Marie jatuh cinta kepada seorang komandan kompi dari Bataliyon Pelopor 33 bernama Kapten Rusady. Mereka lantas menjalin kasih dan berjanji sehidup semati. Suatu waktu di bulan Agustus 1947 dalam suatu pertempuran melawan pasukan-pasukan Belanda dari Yon 5 Andjing NICA di Desa Padayungan, Tasikmalaya, Kapten Rusady tertembak dan terluka parah lalu ditawan dan dipenjarakan oleh Belanda ke Pulau Nusakambangan.

Insiden itu memang sempat sampai ke telinga Marie. Namun karena tak menentunya situasi saat tersebut, soal nasib sang kekasih tak pernah diketahuinya secara jelas. Namun tanpa mengenal putus asa, Marie terus memburu keberadaan Kapten Rusady. Kendati banyak perwira lain yang menaruh harapan dapat mengganti “posisi Kapten Rusady” di sisi Marie, namun gadis muda itu tak menghiraukan mereka. Setiap waktu, ia terus mencari keberadaan sang pujaan, dari front ke front, dari kantong pertahanan satu ke kantong pertahanan lain. Hingga suatu waktu, Marie berhasil bertemu kembali dengan Kapten Rusady di Front Leles, Garut. Mereka kemudian menikah sampai beranak cicit.

Gadis-gadis perang seperti Marie sejatinya sangat umum kehadirannya di front-front pertempuran zaman itu ( saya memiliki koleksi sejumlah pas foto tua dari para anggota pejuang perempuan yang rata-rata sangat belia usianya). Bahkan di Front Bekasi ada sekelompok perempuan, anak-anak petani, yang membentuk kesatuan perlawanan khusus bernama Barisan Srikandi. Mereka terbilang aktif menghadapi tentara-tentara Inggris dan Belanda dalam era revolusi kemerdekaan.
Untuk mengenang keberanian para srikandi ini, pada 1946, penyair Ismail Marzuki mempersembahkan sebuah lagu yang ia beri judul “Melati di Tapal Batas”. Inilah liriknya:

Engau gadis muda jelita
Bagai sekuntum melati
Engkau sumbangkan jiwa raga
Ditapal batas Bekasi

Engkau dinamakan Srikandi
Pendekar putrl sejati
Engkau turut jejak pemuda
Turut mengawal negara

Oh pendekar putri nan cantik
Dengarlah panggilan ibu
Sawah ladang rindu menanti
Akan sumbangan baktlmu

Duhai putri muda remaja
Suntingan kampung halaman
Kembali kepangkuan Bunda
Berbakti kita di ladang (hendijo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here