Bicara kaum globalis atau globalis cabal, mungkin yang tergambar di benak publik adalah Illuminati, Zionist, Freemansory, Hawkish, AIPAC, Bilderbeg atau individu – individu “sakti” yang memiliki impunitas. Tak salah. Sakti sebagai ibarat, nirpidana adalah privilage.

Ilustrasi dalam pagelaran Jawa atas keberadaan globalis cabal, misalnya, ia bukan pion (wayang), tidak pula sekedar dalang. Lantas, siapa? Itulah si penanggap atau istilah kerennya: “pemilik hajatan” yang mengontrol baik dalang maupun gerakan wayang dari balik layar. Man behind the screen.

Dari perspektif geopolitik, ia disebut aktor nonnegara atau non-state actor. Inilah ancaman tak lumrah usai Cold War (Perang Dingin) sebagaimana isyarat geopolitik: “Publik global akan dihadapkan pada ancaman (bentuk) baru. Dan ancaman bentuk baru tersebut bukanlah serangan militer dari/oleh suatu negara terhadap negara lain, tetapi ancaman kejahatan yang dilakukan oleh non-sate actor“.

Pertanyaan menggelitik muncul, “Seberapa besar power dan kiprah non-state actor hingga dianggap ancaman bentuk baru usai Cold War?”

Tak boleh disangkal, soal power jangan ditanya — ia setara negara, bahkan terkadang di atas negara (above the state) karena kuatnya power finansial, politik dan jaringan (networking). Mereka dapat menggerakkan apapun sehubungan kepentingannya terutama pengaruh dalam hal regulasi (UU), contohnya, atau membidani kebijakan di sebuah negara, bahkan bisa menciptakan aksi-aksi kekerasan/bersenjata jika berkaitan dengan kepentingannya.

Manuvernya hampir tidak kasat mata tetapi dampaknya dapat dirasa. Kenapa? Itu dia. Selain maqomnya di atas dalang —si pemilik hajatan— sering menggunakan pihak ketiga (proxy agents), juga modusnya tak secara langsung, tidak menyentuh sasaran. Menurut John Perkins, mereka tidak dipilih rakyat tetapi memiliki power yang tidak dibatasi hukum dan UU, bergerak di antara pemerintah dan bisnis.

Secara ilmu politik, mungkin semacam oligarki. Bertemunya kekuasaan dan kekayaan di satu sisi, plus persekongkolan antara penguasa dan pengusaha pada sisi lain. Ya, semacam “dwi fungsi penguasa-pengusaha,” meminjam istilah wartawan senior Bambang Wiwoho. Bahkan mungkin bukan sekedar oligarki, karena tujuan akhir bukan profit semata. Ada yang lebih mengerikan lagi. Itu sketsa sepintas globalis cabal yang sering disebut dengan berbagai nama.

Lantas, dimanakah mereka bermukim dan ujudnya seperti apa?

Mereka bermukim di pelbagai negara, namun lazimnya menempel pada (negara) superpower karena seolah-olah “polisi dunia,” sekaligus sebagai central of gravity. Titik kekuatan dimana hampir semua pergerakan bertumpu serta terhubung kepadanya.

Ujud globalis itu bisa MNCs atau korporasi/kartel di berbagai bidang terkait hajat hidup orang banyak, atau organisasi-organisasi nirlaba di level nasional, regional maupun internasional, LSM/NGO, kelompok lobby, individu-individu dan seterusnya. Mereka hampir tak mengenal sekat – sekat negara, maka kerap dijuluki “cloud” atau bangsa awan (bangsawan). Tak butuh rezim pengikat.

Agaknya di era Trump, para bangsawan ini harus kembali ke AS sebab kebijakan American First dan/atau Make America Great Again memaksanya kudu menginjak bumi. Ya. Kebijakan Trump menghantam kaum globalis cabal yang mayoritas kapitalnya ditanam di luar negeri. Apa boleh buat, hampir semua modal dipaksa balik ke Paman Sam, mereka kembali menjadi bangsa darat serta harus mengikuti aturan rezim.

Tentu saja American First membuatnya meradang, sebab mesin uang dan pundi-pundinya tidak lagi optimal. Kenapa? Bagi globalis cabal, akumulasi modal ialah karir tertinggi dan merupakan puncak kesaktian.

Sesuai judul, apa kaitan isu Prancis dengan para globalis?

Nah, di sini wayang sebagai analogi, isu Macron sebagai pintu pembuka. Geopolitik mensinyalir —di era Trump— ada upaya globalis menggeser “central of gravity“-nya ke Prancis karena kebijakan Trump membuatnya gerah. Mencoba manuver lewat isu Floyd pun gagal, AS kembali kondusif setelah satu minggu lebih marak di dera unjuk rasa dan amuk massa rasisme; bermanuver via pilpres pun —mendongkel Trump— tampaknya incumbent tidak terbendung. Donald Trump diprakirakan kuat bakal terpilih lagi.

Karenanya, Prancis terpilih sebagai “tempat baru” elit globalis akibat berbagai faktor, khususnya catatan kelam Charlie Hedbo yang kerap menyerang semua agama atas nama freedom of speech.

Sebagai langkah awal kepindahan, lumrah bila central of gravity baru harus diuji terlebih dahulu dengan menu clash of civilization atau benturan peradaban sebagaimana tesis Samuel Hungtinton: “Hadapkan Barat versus Islam”. Tetapi hasilnya justru out of control. Ternyata lepas kendali. Kenapa? Karena yang disentuh Macron bukannya oknum selaku perilaku yang seakan-akan cerminkan Islam sebagai institusi, namun disulut soal sentimen agama dan kultus yang hidup serta tumbuh subur di Dunia Timur. Macro salah bidik. Keliru sasaran. Gilirannya, Timur Tengah terbakar, Asia Tenggara bergolak, bahkan sekularisme Eropa pun tak mau terima ucapannya. Muncul solidaritas lintas benua, antar – negeri, dan religi berbaju boikot terhadap produk-produk Prancis.

Secara geospiritual, 2020 Masehi adalah api, sedang 1442 Hijriyah duduknya di angin. Maka akibat isu Prancis, “Api pun berkobar!”

*Catatan ini juga dimuat di THE GLOBAL REVIEW: Membaca Isu Prancis: Upaya Globalis Geser Central of Gravity

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here