Di tangan Trump, pola kebijakan (geopolitik) Amerika cq Partai Republik agak berbeda dibanding rezim sebelumnya meski dari partai yang sama. Lumrahnya Republik lebih mengkedapankan hard power (kekuatan militer) melalui isu ISIS, terorisme, Islam radikal dan lain-lain daripada isu lain atau pendekatan-pendekatan lain. Kenapa begitu, karena Republik didukung mayoritas industri strategis pertahanan, SDA, judi dan seterusnya. Tetapi di era Trump, pakem hard power yang menjadi ciri Republik tidak dijalankan; sedang Partai Demokrat kerap menggunakan soft atau smart power melalui isu – isu DHL —Demokrasi, HAM dan Lingkungan— karena ia diback up oleh industri IT, inovasi, finance, asuransi, industri kesehatan dan seterusnya yang sifatnya soft power.

Arab Spring di Timur Tengah yang sukses melengserkan beberapa kepala negara, misalnya, itu buah karya “smart power“-nya Demokrat baik di era Clinton maupun Obama melalui isu demokrasi, pemimpin tirani, isu korupsi dan lain-lain. Ya. Arab Spring merupakan projek ganti rezim ala Demokrat melalui soft power di Timur Tengah. Bahkan ada sinyalir, itulah peperangan asimetris (asymmetric war) yang kali pertama digelar oleh Paman Sam di abad ke-21, cuma melalui gerakan massa, tanpa letusan peluru.

Sementara serbuan militer secara terbuka ke Afghanistan (2001), contohnya, atau di Irak (2003) dan seterusnya merupakan olah “hard power“-nya Republik di era George Bush. Dan di Era Obama —Partai Demokrat— sifatnya cuma meneruskan kebijakan “hard power“-nya Bush/Republik.

Demikian garis besar pembeda perilaku geopolitik (dan geostrategi) antara Partai Republik dan Demokrat di panggung global. Tidak hitam putih memang, hanya garis besar saja.

Sekali lagi, bahwa geliat Republik di tangan Trump agak berbeda dengan pola lazimnya. Unik. Ia tidak mengikuti pakem jamak melalui militer (hard power) di depan, tetapi menggabungkan kedua pola (soft/smart dan hard power). Ya. Trump mensinergikan ketiga unsur power concept dalam geopolitik yakni power militer, power ekonomi dan power politik secara simultan dengan intesitas berbeda.

Meski Trump kerap bertingkah “songong” selaku individu, namun cerdas pada langkah geopolitik. Sekali lagi, Amerika di tangan Trump dengan “American First” (Make America Great Again)-nya memiliki warna tersendiri tidak sekedar membebek apa yang diinginkan oleh kaum globalis cabal yang selama ini meremot siapapun Presiden AS. Justru di era Trump, elit globalis cabal merasa gerah akibat langkah-langkah Trump. Makanya pada pemilu presiden 2020 ini, mayoritas kaum globalis berada di belakang Joe Biden demi mendongkel Trump dari kursi kepresidenan.

Pertanyaannya menarik muncul, “Bagaimana kondisi geopolitik global seandainya Biden menang, atau jangan-jangan Trump tetap terpilih?”

*Catatan ini juga dimuat di THE GLOBAL REVIEW: Trump versus Biden

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here