Ada kegelisahan menyeruak di ranah geopolitik pada era revolusi industri 4.0 di Indonesia. Pasalnya, doktrin dan konsepsi (geo) strategi: “Pendudukan terhadap satu pulau dianggap sebagai pendudukan seluruh negara,” apakah masih berlaku di pelataran 4.0?

Mengapa begitu, betapa dalam praktik beberapa aplikasi dan/atau e-money asing seperti Alipay, contohnya, atau WeChat, Lazada dan lain-lain kendati secara fisik tidak menduduki teritori, tetapi bukankah secara operasional — mereka sudah mengeksploitasi serta membawa lari uang masyarakat ke luar?

Inilah yang mutlak segera dirumuskan (ulang) lembaga – lembaga kajian dan para think tank demi Kepentingan Nasional RI. Kenapa? Bahwa wajah kolonialisme kini telah berganti dari hingar bingar (power) militer menjadi power ekonomi nan senyap tanpa letusan peluru.

Beberapa laman baik luar maupun dalam negeri seperti vice.com, middleeateye.net, sindonews, detikcom dan lain-lain, misalnya, memuat berita bahwa militer AS mengambil – alih aplikasi MuslimPro dan membeli data lokasi 100 juta umat Islam di seluruh dunia. Ini terkuak melalui laman Motherboard.

Diskusi di NR memperdalam poin, meskipun pasar (market) MuslimPro cukup besar di Indonesia, tetapi aplikasi ini buatan Singapura. Sekali lagi, inilah yang digelisahkan geopolitik di atas, selain market Indonesia telah diambil oleh asing —ini sudah sering terjadi— bahkan dimanfaatkan intelijen asing untuk mapping bangsa ini.

Mohon maaf, hal ini terjadi akibat kelalaian, kebodohan atau ujud pengkhianatan?

Bangkitlah bangsaku!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here