🙏

Dalam sastra Jawa ada istilah tatas, titis, manitis. Tatas artinya jebol; titis artinya tepat sasaran (sesuai kadar); manitis artinya menerima hasil pekerjaan. Juga, dalam Tasawuf dikenal istilah tahalli, takhollu, tajalli.

Tahalli artinya kosong karena jebol (tatas); takhollu artinya dihormati karena tepat sasaran (titis); sedang tajalli artinya berisi karena menjelma (manitis). Itulah dua kata berbeda kosa tetapi secara hakiki, sama makna.

Sastra Jawa menyebut: “Urip iku koyo dene mampir ngombe” (Hidup itu seperti singgah untuk minum); “Wong urip bakal ngunduh woh ing pekerti” (Orang hidup akan memetik buah dari budi pekerti); “Wong salah bakal seleh, wong bener bakal ketenger” (Orang salah akan hancur, orang benar akan kelihatan).

Tampaknya, sastra di atas menegaskan keterangan sebelumnya tentang tahalli, takhollu dan tajalli.

Kata “kafir” dalam keseharian, ini contoh, juga ada dua arti atau dua keterangan. Arti pertama, tidak percaya kepada Tuhan alias ateis. Ini arti mutlak secara vertikal. Ranah Tuhan. Habluminullah. Keterangan kedua, tidak percaya diri atau minder. Ini arti secara horizontal. Habluminannas.

Nah, dua arti tersebut, baik tidak percaya diri maupun tidak percaya Tuhan, hasilnya kosong (tahalli). Gilirannya, hasil yang berkembang hanya ilusi dan ilustrasi. Seolah-olah mengerjakan sesuatu yang baik tetapi hasilnya nihil.

“Lantas, bagaimana dengan kaum globalis cabal, si Qorun di era modern?” Tanya seorang salik kepada Ki Jebres, Jangkane Zaman.

“Maksudnya?” Ki Jebres mem-breakdown tanya saliknya.

“Para elit globalis, misalnya, bukankah mayoritas mereka tidak percaya Tuhan —ateis— tetapi kok sangat percaya diri? Konon skenario Perang Dunia (PD) baik PD I sampai PD III mereka yang rancang, bahkan sebagian skenario dan hampir seluruh tahapan skenario telah terjadi sesuai kehendaknya. Lha, bukankah itu hebat, bukankah mereka sangat percaya diri?”

“Terus … “, Ki Jebres menunggu narasi lanjutan saliknya.

“Begini, Ki. Apakah para elit cabal ini masuk kategori tahalli (kosong) akibat tatas (jebol) terhadap hal-hal yang dikerjakan karena faktor ateis alias mereka tidak percaya Tuhan?” Imbuh si salik.

Ki Jebres tidak langsung menjawab, namun dihisap rokoknya dalam-dalam, kemudian asapnya dikeluarkan lewat hidung dan mulut secara bersamaan. Buuuss ..

Ngene, le ..”, kata Ki Jebres kepada para saliknya. Ia letakkan rokoknya di asbak. Mimik wajahnya tanpa ekspresi.

“Antara tak percaya Tuhan dengan tidak percaya diri itu satu tarikan nafas. Tidak bisa dipisahkan. Tak boleh dipenggal – penggal”.

“Lho, jadi?” Si salik menyela.

“Ya, memang (terlihat) seperti percaya diri, namun bohong. Sifatnya semu. Pura-pura. Jika menyaksikan kiprah mereka menggunakan hati dalam pengertian shard (hati bagian luar), qalb (hati bagian dalam), dan fuad (hati yang lebih dalam) memang tampak percaya diri. Berani. Tetapi, apabila melihat melalui albab, hati yang paling dalam atau hati sanubari atau hati nurani, mereka sesungguhnya bergetar! Mereka tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya atas hal – hal yang dikerjakan”.

Para salik menyimak ..

“Ingat! Apabila yang berbicara hati dalam makna shard, qalb dan fuad — itu bisa baik/benar, tapi bisa juga buruk/salah. Tetapi jika yang bicara hati nurani (albab), sudah pasti benar,” ujar Ki Jebres menambahi keterangan soal lapis-lapis hati.

Para salik melongo, sebagian mulutnya membentuk huruf mirip “O”.

Di ujung pengajian, Ki Jebres ngendiko kepada para saliknya: “Maksud hati ingin menciptakan surga dunia, namun suatu hal yang tak mungkin. Apa yang ada di permukaan bumi merupakan bayang-bayang surga yang sesungguhnya. Tempatnya nun jauh di sana”. Entah dimana.

End

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here