Iman tanpa ibadah akan menjerat orang menjadi jumud (statis). Juga, ritual tanpa syariat bisa menjebak manusia menjadi “beku”. Kalau rakyat sudah jumud dan beku, apa saja yang dilakukan kaum penjajah di negara koloninya, segenap bangsa yang dijajah cenderung diam, tidak ada reaksi, dan jangan berharap muncul perlawanan secara heroik (patriotisme) atas nama keadilan sosial. Nonsense. Inilah prolog singkat renungan minggu pon.

Nah, ketuhanan yang berkebudayaan sebagai isu hulu, jangan dikira sudah usai dengan ditolaknya RUU HIP oleh publik.

Isu yang tidak boleh dianggap enteng. Mengapa? Kelak umat muslim atau umat agama lain, misalnya, apabila RUU HIP lolos menjadi UU, (mungkin) hanya menjalankan ritual tanpa syariat. Cukup bertuhan dengan mengkedepankan upacara atau ritual tradisional/budaya tanpa panduan kitab suci (al Qur’an, injil, misalnya) sama sekali. Inilah sekularisme, pluralisme, liberalisme (sepilis) kemasan baru yang menumpang dalam dogma post truth, post-modernisme.

Dan ini pula (embrio) MASALAH HULU bangsa lebih dahsyat daripada sekedar penguasaan dan pencaplokan geoekonomi oleh kepentingan asing. Kenapa? Sebab penjajahan kelak justru bersifat lestari. Abadi.

Dan agaknya, isu ketuhanan yang berkebudayaan yang akan menggeser sila ke-1 Ketuhanan Yang Maha Esa, ini hari, terus dan tengah menggeliat secara sistematis, masive dan senyap di parlemen justru di tengah kegaduhan sosial dan implikasi politik praktis akibat isu HRS dan segala “side effect“-nya. Sekali lagi, tanpa mengecilkan arti isu dimaksud, mohon maaf, geopolitik memandang bahwa isu HRS hanya bias terjauh dari apa yang disebut pertikaian geopolitik global. Memang. Konflik lokal merupakan bagian dari konflik global. Siapa mereka? Publik sudah paham tentang itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here