Sudah 8 tahun berlalu, namun masih akurat untuk membedah hiruk pikuk publik akhir-akhir ini perihal “rasa”. Nah, tulisan ini merupakan saripati hasil mengaji di Belajar Tauhid asuhan Ki Jogo Kali, putune Sunan Ngudung. Apa boleh buat, meski beliau telah hijrah, entah kini dimana. Titip rindu dan salim untuk beliau terkasih.

Ya dengan merujuk ujaran leluhur, bahwa hidup itu manunggal rasa, katanya. Hanya berbeda rupa beda warna. Kebahagian anak kecil diberi mainan, mungkin sama dengan (kebahagiaan) pedagang tatkala untung besar. Kebahagiaan pemulung makan nasi bungkus, (mungkin) juga sama dengan kegembiraan saudagar ketika lunch di hotel megah, dan seterusnya. Lantas, bagaimana “rasa” itu, apa saja jenis, macam dan ragam rasa? Bukankah ada rasa asin, manis, gurih, pedas di satu sisi, tetapi ada pula rasa sedih, gembira, puas, dll di sisi lain? Dimana bedanya, mana kesamaannya?

Catatan kecil ini mencoba menguak soal rasa. Minimal setelah membaca catatan ini, kita bisa membedakan antara rasa sedih dengan nikmat rujak cingur, atau rasa gembira dengan rasanya apem, rawon dan lain-lain.

Rasa atau kenikmatan itu terbagi 4 (empat) jenis/macam/bentuk dan seterusnya, antara lain ialah:

Pertama, rasa atau kenikmatan syariat (HUKUM). Rasa syariat letaknya di lidah, sebab lidah menampung rasa pahit, manis, kecut, dan lain-lain atau kerap juga berupa ucapan. Ibarat gurihnya nasionalisme, manisnya kata bercinta, ataupun pahitnya ujaran. Aduh! Kata-katamu sungguh pedih kurasa! Itu sekedar contoh, bahwa kita yang merasakan;

Kedua, kenikmatan atau rasa tharikat (JALAN). Duduknya rasa tharikat di telinga. Mendengar kata “beruntung”, misalnya, yang dimaksud beruntung adalah “menemukan jalan,” misal menemukan jalan kehidupan. Ya dapat proyek, gajinya naik, remunerasi, dan lain-lain. Siapa menemukan jalan kehidupan ialah orang yang beruntung. Itulah rasa atau kenikmatan ber-tharikat;

Ketiga, rasa atau kenikmatan hakikat (BENAR). Letaknya di hati (Qolb). Ya kebenaran dalam (kehidupan) sehari-hari sifatnya individu. Ada atau memiliki istri, contoh, enak atau tidaknya adalah kata hati. Ya hati masing-masing yang akan bicara. Kecewa karena salah pilih, atau pas, cocok, mantap nich sehidup semati, dan seterusnya. Nah, dalam kenikmatan hakiki, sudah tidak dipermasalahkan lagi rasa makanan dan/atau minuman (lidah), juga tidak lagi menyoal rasa (jalan) kehidupan; dan

Keempat, rasa atau kenikmatan makrifat (TAHU). Ia duduk di mata, yakni kenikmatan dalam memandang. Nikmatnya mengetahui atau paham tentang ilmu pengetahuan, atau situasi, wawasan, dan seterusnya. Contoh berpikir, menulis dan/atau akal yang bergerak akan ada nikmat tersendiri. Ini kenikmatan paling top. Dan itulah kenikmatan ber-makrifat.

Maka dalam teori Maslow tentang kebutuhan, bahwa esteem need, penghargaan, aktualisasi diri ditempatkan pada ranking tertinggi karena ternyata selevel dengan rasa atau kenikmatan makrifat (tahu = wawasan).

Dan di dunia marketing, rasa itu selain perlu promosi, juga harganya tergantung supply and demand.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here