Bacasaja.net – Manusia yang hidup pada zaman batu saat ribuan tahun silam, merupakan jenis Hiperkarnivora. Sekitar 70 persen makanan yang mereka konsumsi berasal dari daging-dagingan.

Akan tetapi, pola makan ini mulai berubah di penghujung zaman batu yaitu sekitar 40.000-80.000 tahun yang lalu. Kala itu, manusia purba mulai mengonsumsi lebih banyak sayuran dan lebih sedikit daging. Perubahan ini dipicu oleh kepunahan binatang-binatang besar yang sebelumnya kerap dikonsumsi oleh manusia purba.

Perubahan ini pula yang kemudian mendorong nenek moyang manusia tak memiliki pilihan lain selain mendomestikasi hewan dan tanaman. Mereka lalu mulai menjadi petani, menurut peneliti.

“Sejauh ini, upaya merekonstruksi pola makan manusia zaman batu umumnya berdasarkan perbandingan masyarakat pemburu-pengumpul di abad ke-20,” ungkap salah satu peneiti Dr Miki Ben-Dor, seperti dilansir Mail Online.

Metode tersebut dinilai kurang tepat karena ekosistem berubah sehingga perbandingan tak dapat dilakukan. Oleh karena itu, Dr Ben-Dor dan rekan-rekannya melakukan metode yang berbeda untuk merekonstruksi pola makan manusia di zaman batu.

Dalam studi, tim peneliti dari Tel Aviv University tersebut melakukan analisis terhadap 400 karya ilmiah dari beragam disiplin ilmu. Melalui proses ini, peneliti berupaya menganalisis beragam aspek terkait manusia purba, seperti genetik, metabolisme, fisiologi, dan morfologi.

Melalui metode ini, peneliti dapat memeriksa “ingatan” yang tersimpan di dalam tubuh. Termasuk di dalamnya adalah metabolisme, genetik, dan bentuk tubuh dari manusia purba.

“Perilaku manusia berubah dengan cepat, tetapi evolusi berjalan lambat, tubuh mengingatnya,” tukas Dr Ben-Dor.

Dr Ben-Dor mencontohkan salah satu bukti dari perubahan evolusi yang lambat dalam diri manusia adalah keasaman pada lambung manusia. Tingkat keasaman di dalam lambung manusia lebih tinggi bila dibandingkan dengan omnivora lain atau bahkan predator lain.

Tingkat keasaman pada lambung manusia diperkirakan dipengaruhi oleh kebiasaan manusia purba di masa lalu. Manusia purba kerap memburu hewan besar yang dagingnya cukup untuk persediaan makan selama beberapa hari atau bahkan pekan.

Hal ini membuat manusia purba kerap mengonsumsi daging yang tak segar dan sudah mengandug banyak bakteri. Asam yang kuat pada lambung dapat memberikan perlindungan dari bakteri berbahaya yang mungkin teradapat pada daging.

Isotop stabil yang ditemukan pada tulang manusia purba menunjukkan bahwa manusia kala itu ahli dalam berburu hewan berkuran besar atau sedang dengan kadar lemak yang tinggi. Setelah melakukan perbandingan dengan predator sosial saat ini, tim peneliti mendapati bahwa manusia purba di zaman batu memiliki pola makan yang didominasi oeh daging dan produk hewani, minimal 70 persen.

Baca Juga : Dampak Buruk Air Amerika Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here