30 Achmad SalehTribratanewsJatim.com: Kenekatan Achmad Saleh (77) berangkat dari Palembang menuju Surabaya hanya untuk mencari kerabat dari sang ayah. Tujuannya ke Surabaya untuk menyambung tali persaudaraan yang sempat terputus hampir 50 tahun.

Selain itu, Saleh yang pernah menjadi reporter RRI di Sumatera ini juga menunjukkan ke empat anaknya termasuk Irjen M Tito Karnivian-Kapolda Metro, bahwa kakeknya (Muhammad Saleh bin Mualim) adalah arek Suroboyo yang pernah tinggal di Jalan Wonorejo.

“Saya sudah sepu dan amanah saya ingin menunjukkan ke anak-anak saya, bahwa kakeknya ini arek Suroboyo,” kata Achmad Saleh usai menemui kerabat dari ayahnya di Petemon Kali, Surabaya, beberapa hari lalu.

Meski sudah sepuh, daya ingat Achmad Saleh masih tajam. Diceriterakan tentang asal usul keluarganya. Katanya, pada Tahun 1930-an, ayahnya (Muhammad Saleh bin Mualim) meninggalkan kampung halamannya di Wonorejo gang II Pasar Kembang Surabaya, merantau ke Palembang dan bekerja serabutan.

Diantaranya pernah bekerja ikut membangun kantor ledeng (sekarang Kantor Walikota Palembang). Juga pernah ikut membangun jembatan pasar Indralaya (jembatan yang sitem buka tutup).

Kemudian ikut membangun terowongan kereta api Gunung Gajah-jalur kereta tujuan Palembang-Lahat. Disinilah, Saleh menikahi Amisah binti Husin dari Dusun Bandaragung Lahat.

Kemudian, ditugasi menjadi mandor kolonisasi Tugumulyo (sekarang transmigrasi) salah satu lumbung beras di Musi Rawas Lubuk Langgau. Hasil dari pernikahannya dengan Amisah, dikaruniai 3 anak (salah satunya Achmad Saleh).

Sekitar Tahun 1975, Muhammad Saleh meninggal di kampung transmigrasi Balitang (OKU).
“Ayah saya punya peran membuka transmigrasi di Balitang,” jelasnya.

Seiring perjalan waktu, Achmad Saleh menikahi Kordiyah di Sumatera Selatan dan dikaruniai 4 anak yakni Dian Natalisa, M Tito Karnivian, Iwan Dakota dan Viva Argentina.

Akhirnya Tito berhasil menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian dan banyak rekan-rekannya yang bertanya, apakah M Tito Karnivian ini Wong Palembang atau asal Jawa.

“Nggak ada yang salah pertanyaannya. Memang Tito lahir di Palembang dan kakeknya dari Surabaya orang Jawa,” ujarnya.

Selama 50 tahun hingga Tito menyandang Irjen, silsilah keluarga ini tidak terungkap. Bahkan hingga sang kakek wafat di Balitang (OKU) tidak sempat menjenguk keluarganya di Jawa. Achmad Saleh juga sejak puluhan tahun tidak sempat berkunjung menemui kerabatnya.

Di usianya yang senja, Achmad Saleh ayah kandung Tito ini menyempatkan diri menemui keluarganya di Surabaya. Tujuannya untuk menyambung tali persaudaraan yang sempat ‘terputus’, serta mencari jejak keluarganya.

Saleh melakukan pencarian silisilah keluarganya tidak hanya di Surabaya, tapi juga menemui kerabatnya yang sudah tinggal di Malang, Jawa Timur. Napak tilasnya menemui hasil, karena di Malang bertemu dengan kerabatnya, termasuk menemui saudara dari keluarga kakek Tito yang sekarang tinggal di Petemon Kali, Surabaya.

“Setelah bertemu saudara di Surabaya, Malang, saya sudah plong,” katanya.

“Nggak ada kepentingan apa-apa saya pergi ke Surabaya. Niat saya ingin menunjukkan ke Tito dan saudara-saudaranya, bahwa kamu masih ada darah Surabaya, punya kerabat di Surabaya,” terangnya.

Meski sudah menemukan silsilah keluarganya yang dari Surabaya, Achmad Saleh masih mencari jejak ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Pasalnya, ayahnya-Muhammad Saleh bin Mualim pernah menimba ilmu hingga tingkat “Ongko Loro” di ponpes yang didirikan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari. (mbah heru)

Foto: Achmad Saleh