20 lantasTribratanewsajtim.com: Pendidikan lalu lintas merupakan ilmu pengetahuan yang tidak ada pada kurikulum sekolah. Pembekalan didasari karena masih tingginya angka pelanggaran yang dilakukan oleh pelajar di tingkat SMP. Salah satu contoh, seperti belum mempunyai SIM, tidak memakai helm, berboncengan lebih dari dua, melepas spion dan mengganti ban kecil. Itu semua pelanggaran yang rawan mengakibatkan kecelakaan. Tujuannya dilaksanakannya SOS kali ini untuk mengubah stigma pelajar yang dulunya tidak tahu aturan lalu lintas menjadi mengerti dan sadar akan keselamatan di jalan. Kemudian menanamkan rasa malu ketika melakukan pelanggaran yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain dan dapat menghormati sesama pengguna jalan lain. Selain sosialisasi ketertiban berlalu lintas, anggota Dikyasa juga melaksanakan permohonan dari TK Aisya untuk pelaksanaan kegiatan OWP, hal itu direspon baik oleh Satlantas Polrestabes Surabaya. 20 lanta tbsTim Dikyasa datang dan menghibur adik-adik di TK Aisya. Pertunjukkan wayang polisi, senam lalu lintas, dan pengenalan rambu-rambu disambut meriah oleh adik-adik TK Aisya. Mereka tampak senang ketika anggota polisi mengajukan pertanyaan tentang rambu-rambu lalu lintas. Contohnya ketika Rambu Larangan Berhenti ditunjukkan kepada adik-adik ada yang menjawab “dilarang berjualan es” sontak semua guru dan murid-muridnya tertawa. “Pengenalan pendidikan lalu lintas sejak dini perlu dilakukan. Apabila sudah tertanam di pikiran dan kesadaran anak-anak, sampai dewasa mereka akan taat kepada aturan lalu lintas,” ungkap AKBP Andre JW Manuputty Kasat Lantas Polrestabes Surabaya. (tbs/mbah)